Senin, Januari 4

Akhir tahun 2009 di Sumedang

 

Beberapa hari menjelang akhir tahun 2009, di halaman muka facebook terlihat agenda akhir tahun di Sumedang. Ternyata, agenda tersebut sudah dibuat jauh hari dan hampir melupakannya. Padahal, satu minggu sebelumnya sudah sudah memutuskan untuk tidak pulang kampung. Namun, berhubung ada kabar duka, akhirnya harus pulang juga.

Meskipun dalam suasana duka, tetap mencoba mengisinya dengan penuh semangat. Kebetulan, bertepatan dengan waktu panen. Panen padi, rambutan, nangka, nanas, petay, dan buah-buahan lainnya.

Tak lupa rutinitas lainnya, mancing dan bakar ikan, termasuk bakar ayam. Meskipun tak sampai begadang karena kelelahan dan hujan, cukup menghilangkan kejenuhan.

Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Kamis, November 12

Merindukan kampung halaman


Di kota ini saya dilahirkan. Sudah hampir 3 tahun meninggalkannya. Meskipun beberapa kali pulang kampung, tetap terasa merindukannya. Suasananya yang hampir tidak berubah yang membuat perasaan rindu tersebut tidak pernah hilang. Masih sejuk, sawah terhampar luas, dan jauh dari kebisingan kota.

Tak sabar rasanya menunggu waktu tuk pulang. Masih dua minggu lagi.
Mudik ke jalur berbeda

Mudik tahun ini terasa berbeda. Waktu, jalur, kendaraan, suasana jalan, dan lain-lain sangat jauh dari kebiasaan sebelumnya. Ya, memang tahun ini (1430 H/2009 M) giliran mudik ke rumah mertua. Di Cikotok tepatnya. Beberapa hari sebelum mudik, semua media menyampaikan kondisi jalanan yang dilalui pemudik. Hampir semuanya macet, bahkan sangat parah. Namun, saya cari berita di mana-mana, termasuk di detik, ternyata jalur yang akan saya lewati, tidak ada kabarnya. Saya pun sempat menulis di status facebook, “Apakah jalur yang akan saya lewati termasuk jalur mudik? Koq ga ada yang memberitakan…”.

Tiba saatnya mudik, habis sholat shubuh langsung berangkat ke lebak bulus. Naik bis ke terminal baranangsiang, Bogor. Ternyata, sangat lancar. Tak perlu berebut naik bis yang menuju ke Pelabuhan Ratu, malah bisnya yang ngantri menunggu penumpang. Perjalanan ke Pelabuhan ratu yang biasanya minimal 4 jam, sekarang malah cuma 3 jam. Lancar sekali. Apalagi rute terakhir, ke Cikotok, pasti sangat lengang. Ternyata memang benar. Jalanan kosong. Namun, tetap saja penumpang penuh, karena mobilnya jarang. Daripada nunggu lama, penumpang rela naik di atas mobil.



Lihat saja foto di atas. Penumpang rela bersama barang ditumpuk di atas mobil. Jalur mudik kali ini melewati Bayah. Tampak di terminal singgah sebelum Bayah yang sangat kosong. Bahkan, di salah satu jalurnya malah dipasang tiang gawang.



Perjalanan yang singkat menuju kampung halaman istri tercinta. Tak ada kemacetan, cuma lama di rute terakhir karena menunggu penumpang. Jalanan depan rumah pun tampak lengang.